ABG SMP Rp.150rb sekali kencan

Rabu, 04 April 2007 – 04:36 AM

Jayapura, Geliat bisnis berahi di Papua, termasuk Jayapura kini kian menggila. Tak heran, provinsi di ujung timur Indonesia tersebut menjadi tempat penularan HIV/AIDS tertinggi di negeri ini.YUYUNG ABDI-LUSIE W., Jayapura

USIA gadis itu baru 15 tahun. Dia bahkan masih tercatat sebagai salah seorang siswi di SMP negeri di Jayapura. Namun, pada usia yang masih belia itu, Laura (bukan nama sebenarnya) sudah menjadi bagian dari dunia prostitusi di ibu kota Provinsi Papua tersebut.

Ketika ditanya Jawa Pos (Grup Cenderawasih Pos) soal alasan dirinya mau menjadi pelacur, gadis berkulit hitam berambut keriting dengan bola mata besar itu hanya tersenyum. Namun, dia mengaku mengakrabi seks sejak anak-anak. “Saya suka lihat film, Kaka (maksudnya Kakak, Red),” ujarnya.

Yang dimaksud Laura adalah film biru. Lewat film itu, sejak usia bau kencur, dia sudah paham tentang orang bersebadan. Selain itu, wanita asli Papua tersebut menyatakan dikenalkan pacarnya pada seks. Akibatnya, Laura ketagihan. Dia pun menerjuni bisnis prostitusi pada usia ketika sebayanya masih aktif bermain dan belajar.

Untuk gadis seusia Laura, pria hidung belang harus merogoh kocek Rp 150 ribu untuk sekali kencan. Oleh Laura, uang itu biasanya digunakan berpesta bersama teman-temannya atau membeli barang-barang konsumtif lainnya.

Bagi sebagian orang, gadis-gadis belia seperti Laura memang menawarkan tantangan tersendiri. Sebab, ketika mem-booking anak sekolah, laki-laki hidung belang harus bersikap sabar dan ngemong. Sebab, para gadis cilik tersebut benar-benar masih kekanak-kanakan. Mereka fasih bahasa gaul, tapi kadang tak nyambung saat diajak mengobrol yang agak serius oleh para pem-booking.

Gadis-gadis cilik dan para wanita asli Papua biasanya memilih terjun sebagai PSK jalanan atau menghuni bar-bar kelas bawah.

Maraknya dunia prostitusi di Papua sudah bertaraf sangat memprihatinkan. Murphy J. Sembiring, seorang pekerja sosial yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas dr Soetomo (Unitomo), Surabaya, kini sedang menyusun laporan tentang fenomena perkembangan HIV/AIDS di Papua. Fakta yang dia temukan sangat mengejutkan.

Selama tujuh hari berada di Bumi Cenderawasih itu, Murphy menemukan bahwa Papua telah banyak berubah. “Kehidupannya berbeda jauh dengan keadaan 16 tahun lalu,” kata pria yang juga ketua Program Sosial Pencegahan AIDS dan Narkoba (Propasna), sebuah LSM yang fokus pada bidang AIDS, narkoba, dan penyakit sosial.

Dua windu silam, Murphy menjadi dosen di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Jayapura. Ketika Murphy memutuskan hijrah dari Papua pada 1991, hanya ada satu tempat yang membuka praktik prostitusi terselubung. Saat ini, bisnis prostitusi itu telah berkembang pesat.

Di kota seperti Jayapura, ada ratusan tempat yang menyediakan servis plus. Umumnya, tempat-tempat itu berwajah panti pijat, salon, bar, atau karaoke.

Karena itu, kata Murphy, tingkat rata-rata penyandang HIV/AIDS di Papua sungguh mencengangkan. Hingga akhir 2006, data yang dirilis Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes Indonesia menyebutkan, tingkat prevalensi tiap 100 ribu penduduk di Papua, 51,42 persen tertular AIDS. Angka tersebut tertinggi di Indonesia.

Bedanya lagi, penularan AIDS di Papua -hingga akhir 2006 secara akumulasi ditemukan 947 kasus- juga mempunyai hal yang khusus. Yakni, yang terbanyak diduga disebabkan kontak seksual. Bukan dari jarum suntik seperti yang ditemukan di DKI Jakarta, misalnya. “Itu memang tidak mengherankan. Situasi di sana mendukung berkembangnya penyakit tersebut,” jelas pria kelahiran Binjai itu.

Seperti yang disaksikan Jawa Pos, para PSK kian berani turun ke jalan. Selama perjalanan dari Jayapura ke Waena, “bunga-bunga trotoar” itu terlihat di sepanjang jalan. Dulu, selepas Magrib, hampir tak ada orang berlalu-lalang di jalanan. “Kini, nyaris tak ada jalan yang sepi,” ujarnya.

Selain gadis lokal Papua, banyak di antara para PSK itu yang berasal dari luar Papua. Mereka datang dari Jawa Timur, Manado, Sulawesi Selatan, dan lain-lain. Oleh para pria hidung belang, wanita-wanita itu disebut “paha putih”. Pria yang menjadi konsumen mereka rela antre berhari-hari hanya untuk mendapatkan waktu beberapa jam bersama PSK “paha putih” itu. “Mereka biasa melakukannya beramai-ramai, tanpa memakai alat pengaman,” ungkap Murphy.

Bagi sebagian PSK, Papua memang menjadi tempat yang menjanjikan. Banyak wanita yang sengaja merantau ke Papua hanya untuk melacur. Seimbang dengan biaya hidup dan harga kebutuhan pokok yang tinggi, tarif booking di sana pun dianggap lebih mahal dibandingkan daerah lain.

“Minimal bisa dua kali lipat dibandingkan di Jawa,” kata seorang PSK asal Jatim yang ditemui Jawa Pos di kawasan remang-remang di Tanjung Elmo, Sentani. (*)

by: cepos

5 Tanggapan ke “ABG SMP Rp.150rb sekali kencan”

  1. julis pigome Says:

    memang jaman semakin takaruan. banyak anak kecil su tra tau adat lagi
    padahal dorang bisa minta mama bapa to klo cuma untuk uang sekolah
    itu alasan sajah
    salam untuk anak2 wisma puncak jaya di jogjakarta

  2. revolusi Says:

    bejat….bejat…..
    mana tanggung jawab pemerintah daerah dan indonesia???

  3. RETTY N HAKIM Says:

    GIMANA NGGAK SEPERTI CENDAWAN, DI NABIRE SAJA YG SAYA TEMUI KELUARGA DEGEY CALONYA

  4. Eko SW Says:

    wuuuih. spt itu ya? serem

  5. evan Says:

    mana, tanggung jawab keluarga dan pemerintah….
    otonomi sudah di kasih, masih saja ada yang seperti ini??
    atau otonomi itu hanya untuk kalangan eksekutiv saja. janji-janji untuk tutup tanjung elmo tuh hanya janji yang palsu saja……
    kasihan anak-anak tuh…..
    itu aset bangsa juga, bukan aset om-om……
    God Bless My Papua


Tinggalkan Balasan